:)

:)
wannabee

wannabee

luph 4ever . hha :D
Powered By Blogger

Wednesday, 10 May 2023

Penyakit Kusta Dalam Perspektif Agama

Sudah banyak yang tahu bahwa Kusta adalah penyakit yang memang sudah ada sejak lama, adapun yang menyebutnya sebagai penyakit tertua. Banyak yang menganggap penyakit ini sebagai penyakit kutukan, sehingga banyak penderita yang dikucilkan dan mengalami stigma yang bermacam- macam. Memang secara medis penyakit Kusta ini merupakan penyakit yang bisa diobati. Dengan risiko terjadinya kecacatan yang dapat dialami jika penderitanya segera ditangani. 

Untuk pengobatan penyakit kusta ini sering mengalami kendala karena banyak penderitanya yang merasa malu untuk memeriksakan dirinya dan biasanya juga penderita tertutup. Ini disebabkan karena adanya berbagai stigma yang dialami penderita kusta termasuk para OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta). Adanya stigma yang tentu saja menghambat upaya penanggulangan kusta di Indonesia. 

Perlu diketahui bahwa program Indonesia bebas kusta sudah ada dan sudah lama dicanangkan. Namun tetap membutuhkan kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Terutama untuk menghilangkan stigma yang ada di masyarakat sampai dengan saat ini.



Pada hari Senin, 8 Mei 2023 lalu KBR Indonesia bekerja sama dengan NLR Indonesia mengadakan diskusi publik dengan tema "Kusta dalam Perspektif Agama". 

Yang acaranya dipandu oleh Rizal Wijaya ini disiarkan secara live di channel yuotube Berita KBR dan NLR Indonesia serta bisa didengarkan di seluruh jaringan radio KBR yang ada di Aceh hingga Papua. 


Dengan menarik diskusi ini menghadirkan dua orang narasumber. Yakni Bapak Muh. Iqbal Sauqi, seorang dokter umum di RSI Aisyiah Malang, sekaligus kontributor Islam.co, dan Bapak Corinus Leunufra, seorang pendeta sekaligus OYPMK. 

Di awal diskusi, dokter Iqbal menjelaskan, bahwa berdasarkan hadist memang kusta sudah ada sejak jaman sebelum Nabi Muhammad S.A.W. Dan penyakit kusta ini pun merupakan penyakit yang harus diwaspadai oleh kita semua. Bahkan beliau menuturkan ada doa khusus yang diajarkan agar terhindar dari penyakit kusta ini. Dalam bahasa arab, kusta diistilahkan dengan judzam yang artinya terpotong. Hal ini mengacu pada kondisi penyakit kusta yang pada taraf lanjut penderitanya dapat mengalami mutilasi (bagian tubuh yang terpotong) sehingga bisa mengakibatkan kecacatan pada penderitanya.

Penyakit kusta ini memang penyakit yang sangat perlu diwaspadai kita semua karena selalin dapat menular juga dapat berdampak pada kecacatan fisik bagi penderitanya. Mamang terdengar mengerikan, namun pada salah satu hadist diceritakan bagaimana perlakuan nabi yang tidak mengucilkan dan memberi stigma buruk kepada penderita kusta tersebut.

Ada hadist yang diriwayatkan oleh At Turmudzi tersebut dinyatakan :

"Sesungguhnya Rasulullah S.A.W memegang tangan seorang penderita kusta, kemudian memasukannya bersama tangan Beliau ke dalam piring. Kemudian Beliau mengatakan: "makanlah dengan nama Allah, dengan percaya serta tawakal kepada-Nya" (HR at-Turmudzi).

Pada dunia medis yang saat ini mengalami kemajuan pesat. Dinyatakan bahwa penyakit Kusta ini bukan lagi penyakit yang tidak bisa diobati. Penyakit kusta ini bisa diobati dan penularannya pun lebih bisa diantisipasi/dicegah.

Karena adanya perkembangan tersebut , diharapkan pandangan dan stigma buruk terhadap penyakit dan penderita kusta di masyarakat bisa berkurang dan menghilang seiring berjalannya waktu.Sesungguhnya hambatan utama dalam penanggulangan kusta adalah akibat adanya pandangan yang salah dan stigma buruk oleh masyarakat itu sendiri.

Dari narasumber kedua yakni Bapak Corinus Leunufra - seorang pendeta sekaligus OYPMK - menceritakan pengalamannya saat pertama kali  didiagnosa memiliki penyakit kusta. 

Pertama kali didiagnosa kusta pada bulan Juli 2016, gejala yang dirasakan beliau adalah mati rasa di bagian kaki. Lalu setelah diperiksa di Puskesmas ternyata beliau dinyatakan menderita penyakit kusta. Beliau harus menjalani pengobatan tanpa putus selama 1 tahun, dan dinyatakan sebagai Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) pada bulan Mei 2017.

Saat beliau didiagnosa penyakit kusta, beliau mulai khawatir mengenai stigma yang akan diterimanya dari masyarakat. Dan dengan terpaksa, mau tidak mau beliau mulai mencoba menerima semuanya dan menganggapnya sebagai teguran agar lebih peduli dengan para penderita penyakit kusta. 

Adapun perspektif dari agama nasrani mengenai penyakit kusta. Menurut penuturan Bapak Corinus, dalam  penyakit kusta juga dianggap sebagai penyakit yang menakutkan. Di mana ada sekitar 28 kali penyebutan tentang penyakit kusta dalam kitab perjanjian lama maupun perjanjian baru. Dan jumlah tersebut termasuk banyak. Namun perlakuan terhadap penderita kusta, dalam perjanjian baru diceritakan bagaimana Yesus menjamah orang yang terkena kusta dan proses penyembuhannya.

Dapat disimpulkan bahwa Yesus mengajarkan untuk tetap berbuat baik kepada sesama termasuk kepada mereka yang sedang menderita penyakit kusta ini, dan diharapkan agar tidak ada stigma yang buruk mengenai penderitanya juga.

Dari beberapa uraian yang disampaikan oleh kedua narasumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa berlaku buruk kepada penderita kusta termasuk memberikan stigma bukan hal yang  diajarkan oleh agama. Kita harus berprasangka dan tetap berbuat baik kepada siapapun. Namun kita juga harus tetap waspada dan selalu berusaha agar terhindar dari peyakit kusta. Pastinya dengan berdoa kepada Yang Maha Kuasa, menjaga kesehatan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencukupi tubuh dengan asupan gizi yang memadai, serta mencari informasi yang benar mengenai penyakit kusta tersebut.

Semoga tidak ada lagi yang mengucilkan dan memperlakukan penderita kusta bahkan orang yang sudah sembuh dari kusta (OYPMK) dengan buruk. Semoga kita dapat bersikap baik dan bijaksana untuk mereka. Kita juga harus mendorong penderita pentakit kusta untuk segera berobat dan sembuh dari penyakitnya.

Semakin cepat ditangani penyakit kusta tersebut, maka risiko kecacatan dan juga penularan akan dapat diminimalisir dengan baik. Mari kita bersama-sama perangi kusta dengan menghilangkan stigma buruk yang ada di masayarakat sampai dengan saat ini, untuk menuju Indonesia bebas penyakit kusta. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan. Aamiin.

No comments:

Post a Comment